ˇ@ˇ@Seiring dengan dakwaan keterlibatan
menantu lelaki presiden Chen Shui Bian , Zhao Jien Ming dalam
kasus
insider trading perusahaan Taiwan Development , mengakibatkan
media massa berlomba-lomba untuk memberitakan masalah ini ,
bahkan ketika ia menghadiri persidangan , terjadi konflik keras
antara polisi pengadilan dengan pekerja media massa , yang
mengakibatkan masalah kebebasan pers dan hak asasi kembali
hangat dibicarakan.
ˇ@ˇ@Di negara demokrasi , kebebasan pers dan hak asasi manusia
atau HAM sering diletakkan pada kedudukan yang sama , keduanya
juga sama-sama penting. Tapi di Taiwan , setelah periode
mobilisasi dihapuskan , media massa dengan cepat berkembang
, media
massa yang dikelola swasta bermunculan bagaikan jamur dimusim
hujan , sehingga persaingannya sangat sengit , agar bisa
mencapai porsentase pemirsa tertinggi , kadang-kadang dilakukan
cara-cara bias seperti memotret atau merekam secara sembunyi-sembunyi
, membuat berita palsu atau menjadikan berita sebagai hiburan
, ditambah masyarakat biasanya menyukai hal-hal berbau "mengintip"
, seleranya terhadap berita juga makin lama makin pedas ,
akibatnya
dibawah siklus buruk dua hal diatas , situasi
dari laporan berita yang menginvasi HAM sering terjadi.
ˇ@ˇ@Misalnya seperti dalam kejadian bencana tsunami Asia Selatan
pada akhir tahun 2004 , seorang gadis yang bernama Yek Jia
Ni yang selamat dari bencana tsunami di Pulau Phuket Thailand
, ketika kembali ke Taiwan , ternyata tidak lepas dari incaran
media massa. Meskipun Yek meminta agar para wartawan jangan
memotretnya lagi dan saat itu ia sudah sangat marah , tapi
wartawan tetap ingin mewawancarainya. Sedangkan setelah menantu
presiden Chen Shui Bian , Zhao Jien Ming didakwa terlibat
kasus insider trading , secara otomatis juga menjadi buruan
media massa , dibawah situasi pihak terkait menyembunyikan
diri dan tidak mau memberikan jawaban , puteranya Zhao Yi
An juga menjadi topik sasaran lensa. Meskipun latar belakang
kedua anak ini berlainan tetapi penampakannya yang menarik
dan responnya yang jujur , menonjolkan masalah serius yakni
kebebasan pers yang berlebihan telah melanggar HAM.
ˇ@ˇ@Ketua eksekutif Dana Pengembangan Penyiaran atau BDF Lin
Yu Hui mengatakan , media massa selain sering secara tidak
memadai menanyai anak-anak , termasuk mengumumkan nama korban
atau nama anggota keluarganya , menunjukkan foto , merekam
korban yang sedang menjalani perawatan atau memaksa pihak
yang tidak terkait untuk menerima wawancara , semuanya dengan
serius melanggar hak asasi mereka dan hak mereka untuk tidak
menerima wawancara. Ia berpendapat , wartawan yang bekerja
digaris terdepan masih mempunyai ruangan untuk memperbaiki
diri namun kuncinya terletak pada pihak atasan dari berbagai
media massa , yang sering tidak bisa membedakan antara masalah
umum dan pribadi , tidak bisa membedakan nilai dan tidak
bisa membedakan benar salahnya , mengemukakan kebijakan yang
melampaui batasan berita. Lin Yu Hui mengatakan , pihak atasan
media berita Taiwan , tidak mengerti apa yang disebut dengan
masalah umum dan pribadi , sering dengan cara pribadi melanggar
masalah umum , sama sekali tidak mengerti apa yang disebut
dengan hak pribadi atau rahasia pribadi , tidak tahu apa
yang disebut dengan menghormati hak asasi orang lain. Kedua
adalah , tidak bisa membedakan nilai berita , misalnya para
wartawan menunggu didepan kediaman Zhao Jien Ming dan merekam
gambar Zhao naik taksi ke pengadilan , ini sama sekali tidak
ada nilai beritanya juga tidak ada kaitannya dengan kasus
yang terjadi.
ˇ@ˇ@Anggota eksekutif Asosiasi bagi hak asasi Taiwan atau
TAHR Lai Shiu Ru juga berpendapat , setelah demokratisasi
Taiwan
, yang paling mudah melanggar HAM sebaliknya adalah wartawan
, polisi dan penegak hukum , sedangkan yang paling mudah
dilanggar HAM nya adalah penderita sakit jiwa dan anak-anak.
Ia beranggapan , setelah dibukanya media massa , sehubungan
dengan persaingan sengit dalam pasaran dan kurangnya pelatihan
profesional , masing-masing media bagaikan memasuki hukum
rimba , hasil dari persaingan buruk , juga mudah menimbulkan
fenomena ˇ§ yang tidak baik mengusir yang baikˇ¨. Dilain pihak
, budaya sosial dan pendidikan Taiwan juga muncul masalah
yakni kurang peka terhadap masalah HAM , maka dari itu ,
ia mengimbau masyarakat untuk mengambil tindakan , agar haknya
sendiri tidak dilanggar pihak lain. Lai Shiu Ru mengatakan
, untuk masalah ini Taiwan semestinya bisa merenungkan lebih
lanjut , ia juga setuju , kalau saat ini tidak ada jawaban
tepat yang sangat banyak , namun ia merasa perlu mengambil
tindakan secara bertahap , agar semuanya menyadari , dan
konsep pikiran terhadap HAM makin peka , makin mengerti haknya
ada dimana , tidak semestinya dilanggar.
ˇ@ˇ@Wakil manager seksi berita Televisi Formosa Tsai Cang
Bo berpendapat , memang kini saatnya bagi media massa mengadakan
introspeksi , perlu lebih lanjut menentukan definisi privasi
atau hak pribadi dan menerapkan tindakan yang tidak melanggar
privasi orang lain. Ia selain berharap Komisi Komunikasi
Nasional atau NCC bisa mengembangkan fungsinya untuk mengawasi
isi
laporan berita , media surat kabar atau organisasi sosial
juga semestinya secara berkala mengadakan penilaian terhadap
isi laporan berita dari masing-masing media massa dan diumumkan
pada pihak luar , dengan demikian , media elektronik demi
menjaga reputasi dan kesan masyarakat terhadapnya mungkin
bisa mengekang diri dan menerapkan swa disiplin.Tsai Cang
Bo mengatakan , media cetak juga bisa mengembangkan fungsi
sangat besar , pada saat ada kejadian besar, media cetak
semestinya melaporkannya , melalui perbandingan , orang yang
mentaati hukum , tentunya akan memberikan pujian pada orang
yang mentaati aturan , ini bisa mempengaruhi reputasi media
bersangkutan.
ˇ@ˇ@Sedangkan pengacara You Ing Foo menegaskan , dirinya bukan
orang yang suka memperkarakan , tapi di luar negeri ada sangat
banyak contoh klasik pelaporan berita yang melanggar HAM
yang bisa dijadikan referensi bagi masyarakat Taiwan , ia
berharap , pada saat hak seseorang dilanggar , semestinya
berani mengadukannya agar dengan banyaknya kasus semacam
ini bisa mengingatkan media massa untuk mengekang diri.