QR Code

MOL: Majikan Tidak Diperkenankan Meminta Pekerja Selalu Mengambil Cuti Libur

2018-01-13
  • MOL: Majikan Tidak Diperkenankan Meminta Pekerja Selalu Mengambil Cuti Libur

    MOL: Majikan Tidak Diperkenankan Meminta Pekerja Selalu Mengambil Cuti Libur

    MOL: Majikan Tidak Diperkenankan Meminta Pekerja Selalu Mengambil Cuti Libur

        (Taiwan, ROC) – Revisi Undang-Undang Ketenagakerjaan berhasil diloloskan dalam rapat sidang pembacaan tahap ke tiga Yuan Legislatif pada hari Rabu tanggal 10 Januari lalu, dan revisi tersebut dijadwalkan akan mulai diberlakukan sejak tanggal 1 Maret mendatang. Namun sehubungan dengan penambahan pasal ke 32 butir pertama yang menyebutkan bahwa jam lembur kerja dapat diganti berupa pemberian cuti libur, menuai kritikan dari serikat buruh, dimana upah lembur yang tidak mencapai 1,34 atau 1,67 kali lipat dari upah biasa, harus dipaksa untuk menerima kenyataan 1 banding 1 pengambilan cuti libur.

        Sehubungan dengan hal tersebut, pihak Kementrian Ketenagakerjaan atau MOL kembali menegaskan bahwa majikan berkewajiban untuk memberikan upah lembur bagi para pekerja yang bekerja di waktu lembur, sementara untuk sistim pertukaran waktu kerja lembur menjadi cuti libur adalah pilihan dan hak dari si pekerja tersebut. Bagi yang melakukan pelanggaran, maka akan dikenakan sanksi denda minimal NT$ 20 ribu dan maksimal NT$ 1 juta.

        Direktur Departemen Standarnisasi Ketenagakerjaan MOL Hsieh Chien-chien mengatakan, “Harus merujuk kepada kehendak pekerja dalam memilih libur, dan tentu harus melalui perijinan dari majikan. Pada intinya adalah jika pekerja tidak menghabiskan masa liburnya, dimana jam lembur terus bertambah di masa produktif dan berkurang di waktu lainnya, maka kedua belah pihak dapat menandatangani perjanjian tersendiri, misalnya jatah libur dapat diambil dalam kurun waktu 6 atau 3 bulan ke depan. Sekalipun demikian, semua upah lembur yang ada harus dilunaskan di dalam tahun periode tersebut.”

        Hsieh Chien-chien menjelaskan bahwa Yuan Legislatif juga meminta pihak MOL untuk melakukan penelitian lebih lanjut dalam kondisi tambahan lain terkait masalah sistim pertukaran waktu lembur dengan upah lembur atau cuti libur.

        Adanya kekhawatiran dalam publik terkait hal tersebut, maka Hsieh Chien-chien juga menjelaskan bahwa pekerja memiliki hak untuk memilih untuk mengambil cuti libur atau tidak sebagai pengganti waktu lembur. Jika majikan menolak hari cuti libur yang diajukan oleh pihak pekerja sebagai pengganti waktu lembur, maka akan memasuki proses negosiasi selanjutnya. Jika negosiasi masih tidak menemukan solusi penyelesaian masalah, maka pihak majikan diwajibkan untuk memberikan upah lembur, sehingga tidak akan menyebabkan terjadinya kasus penggunaan waktu lembur sebagai bagian dari ‘Hari libur tanpa gaji’.