QR Code

Tim Delegasi Media Indonesia Tertarik dengan Peran dan Transformasi Radio Taiwan Internasional Selang Setengah Abad Terakhir

2018-07-11
  • Tim Delegasi Media Indonesia Tertarik dengan Peran dan Transformasi Radio Taiwan Internasional Selang Setengah Abad Terakhir

    Tim Delegasi Media Indonesia Tertarik dengan Peran dan Transformasi Radio Taiwan Internasional Selang Setengah Abad Terakhir

    Tim Delegasi Media Indonesia Tertarik dengan Peran dan Transformasi Radio Taiwan Internasional Selang Setengah Abad Terakhir

        (Taiwan, ROC) – Sehubungan dengan kunjungan tim delegasi yang terdiri dari 7 media besar asal Indonesia ke Taiwan, yang diprakarsai oleh Kantor Perwakilan Taiwan di Jakarta (TETO, Taipei Economic and Trade Office to Jakarta) belum lama ini, pada hari Senin tanggal 9 Juli sore hari, bertandang ke Radio Taiwan International, dan disambut langsung oleh Chairperson RTI Madame Lu Ping, President RTI Mr. Shao Li-chung, Vice Manager of Programming Department Carlson Wong, Chief of Foreign Languages Section Ms. Patricia Lin, Koordinator RTI Siaran Indonesia Farini Anwar dan para penyiar siaran bahasa Indonesia lainnya.

        Rombongan yang melakukan kunjungan ke Taiwan selama 4 hari 3 malam, mulai dari tanggal 8 hingga 11 Juli ini, boleh dikatakan adalah rombongan media terbesar yang pertama kalinya dalam sejarah hubungan interaksi media Indonesia dan Taiwan, dimana langsung diikuti oleh para pejabat tinggi media asal Indonesia, antara lain Mr. Budiman Tanuredjo (Editor in Chief, KOMPAS), Mr. Usman Kansong (News Director, Media Indonesia), Mr. Arifin Asydhad (Editor in Chief, KUMPARAN), Mr. Nezar Patria (Editor in Chief, The Jakarta Post), Mr. Teguh Santosa (CEO, ROML.com), Mr. Hery Trianto (Editor in Chief, Bisnis Indonesia) dan Mr. Erafzon Saptiyuda (Deputy Editor in Chief, ANTARA), dan rombongan dipandu langsung oleh Director of News Departement, TETO di Jakarta, Ms. Kendra Chen.

        Sebelum rombongan melakukan diskusi pertukaran informasi dengan para pejabat RTI, para peserta delegasi usai tiba di markas besar RTI di Taipei pada Senin sore hari, segera diarahkan untuk mendapatkan wawancara ekslusif dari RTI, baik dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia. Dalam wawancara yang dilakukan tersebut, para peserta mengakui melihat adanya perubahan yang signifikan berkenaan dengan perkembangan di Taiwan sendiri. Taiwan yang sebelumnya lebih banyak dikenal sebagai salah satu negara dengan kemampuan teknologi yang berkelas internasional, kini dengan berbagai kebijakan yang diusung oleh pemerintah Taiwan terkait pemberian ruang dan pelayanan yang lebih baik bagi para perantau asing yang kebetulan tengah berada di Taiwan, mampu menarik perhatian para peserta rombongan, khususnya perhatian yang diberikan bagi para Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang tengah mengadu nasib di pulau Formosa ini, dimana jumlah total masyarakat Indonesia yang kini berhasil mencapai angka lebih dari 300 ribu orang, dan 270 ribu di antaranya adalah para PMI yang tersebar di berbagai pelosok di Taiwan.

Hal ini tentu diperkuat dengan kenyataan yang mereka dapatkan melalui kegiatan kunjungan langsung ke lokasi Taipei Main Station, tempat berkumpulnya masyarakat Indonesia di hari libur (Minggu) oleh rombongan media sehari sebelumnya.

Mr. Erafzon Saptiyuda dari ANTARA mengatakan, “Setelah berkunjung ke Taiwan selama 3 kali terakhir ini, memang dapat dirasakan perbedaan sikap dan kebijakan yang diterapkan oleh Taiwan kepada para pekerja migran asing, hal ini juga menjadi salah satu alasan mengapa kebijakan ketenagakerjaan di Taiwan, bisa disebut sebagai salah satu yang terbaik di dunia, bahkan melampaui negara tujuan pekerja migran lainnya, misalnya Malaysia atau Arab Saudi.”

        Seiring dengan perkembangan jaman dan kemajuan tekonologi yang terjadi dewasa saat ini, media-media di Indonesia juga mengalami berbagai tantangan baru terkait digitalisasi dan perkembangan media sosial yang ada. Mr. Budiman Tanuredjo dari KOMPAS saat menerima wawancara dari RTI menjelaskan, “KOMPAS dimulai dari media cetak, namun kini kita harus mampu menyikapi perkembangan platform dari media itu sendiri, termasuk dalam menghadapi media sosial. Kami yang selama ini berperan sebagai media mainstream tradisonal, kini kami memiliki 4 platform berbeda dalam pengelolaan KOMPAS itu sendiri. Untuk itu, dalam menekan angka pengeluaran yang harus dihadapi seiring dengan perluasan platform yang berbeda, ada satu hal yang kami terus jajaki saat ini, yakni jangan melihat media sosial atau yang lainnya sebagai kompetitor, namun rangkulah mereka untuk bisa menjadi kolaborator, yang bisa menghasilkan win-win solution bagi semua.”

Dalam pertemuan diskusi bersama para pejabat RTI, beberapa pihak media Indonesia juga menyatakan ketertarikan untuk bisa menjalin kerjasama dengan RTI. Mr. Usman Kansong dari Media Indonesia mengatakan, “Media Indonesia yang masih satu grup dengan METRO TV, telah memiliki siaran berita XinWen dalam bahasa Mandarin, dan melihat materi berita yang tengah dilakukan oleh RTI berupa audio visual, maka ini bisa menjadi sebuah kerjasama antara METRO TV dengan RTI, baik siaran dalam bahasa Mandarin dan Indonesia.”

Membuka dan menjalin hubungan kerjasama dengan berbagai intansi baik dalam dan luar negeri, merupakan bagian dari tugas utama yang diemban oleh RTI selama ini. Selain hubungan kerjasama yang terjalin dengan ANTARA sejak tahun 2009, juga ada beberapa media lain yang telah berkolaborasi dalam hal pertukaran berita dan informasi, misalnya RRI, Koran WASPADA, Inilah.com dan berbagai organisasi NGO lainnya, termasuk penyelenggaraan berbagai kegiatan internasional lintas negara. Menanggapi hal tersebut, pihak RTI sendiri juga akan segera menindaklanjuti kesempatan kerjasama yang ditawarkan tersebut, sehingga dapat segera direalisasikan dan bisa memberikan sebuah hal yang baru dalam penayangan berita dan informasi, serta mempererat tali silahturahmi yang telah terjalin selama ini antara Taiwan dan Indonesia.