QR Code

Presiden Tsai: Taiwan bisa membantu Asia, dan Asia bisa membantu Taiwan

2018-10-11
  • Presiden Tsai Ing-wen menyampaikan sambutan dalam Forum Yushan di Taipei

    Presiden Tsai Ing-wen menyampaikan sambutan dalam Forum Yushan di Taipei

    Presiden Tsai Ing-wen menyampaikan sambutan dalam Forum Yushan di Taipei, Kamis, 11 Oktober. (Foto: CNA)

(Taiwan, ROC) - “Taiwan bisa membantu Asia, dan Asia bisa membantu Taiwan,” inilah inti semangat dipromosikannya kebijakan baru ke arah selatan oleh pemerintah, demikian ditegaskan Presiden Tsai Ing-wen (蔡英文) ketika menghadiri Forum Yushan yang digelar di Taipei, Kamis, 11 Oktober.

“Dalam Forum Yushan tahun lalu, beliau (mantan wakil presiden Filipina Teofisto Guingona Jr.) mengatakan, Filipina dan Taiwan bisa saling membantu. Saya menaruh kalimat tersebut di dalam hati, karena inilah nilai inti digelarnya Forum Yushan dan dipromosikannya kebijakan baru ke arah selatan. Taiwan bisa membantu Asia, dan Asia bisa membantu Taiwan,” demikian kata Presiden Tsai.

Melalui sambutan dalam forum dua hari tersebut, kepala negara juga menekankan kepentingan bagi diadakannya lebih banyak kerja sama regional untuk sama-sama berjuang demi masa depan lebih baik.

Tsai mengetengahkan, dengan jangkauan ekonomi dan populasi melampaui separuh dari populasi global, Asia berkemampuan berperan sebagai pemimpin dunia. Menurutnya, pada saat tantangan baru bermunculan di tengah-tengah meningkatnya ketegangan perdagangan global, terlebih-lebih dibutuhkan kerja sama lebih erat di kawasan Indo-Pasifik untuk sama-sama membangun masa depan.

Forum Yushan adalah suatu pertemuan internasional tahunan yang diselenggarakan oleh Taiwan untuk mempromosikan status regional Taiwan dan mendukung upaya Taiwan menjalin hubungan lebih luas dengan negara-negara yang terjangkau Kebijakan Baru ke Arah Selatan.

Tahun ini, Forum Yushan digelar di Taipei sepanjang dua hari pada 11 dan 12 Oktober. Tamu agung manca negara yang hadir dan dijadwalkan menyampaikan pidato mencakup mantan presiden Afrika Selatan Frederik Willem de Klerk, Deputi Asisten Administrator Dirjen Pelestarian Lingkungan Amerika Serikat Jane Nishida, dan pemenang Hadiah Nobel untuk Perdamaian 2014 Kailash Satyarthi.